Galodo Palembayan tidak bisa dilepaskan dari akumulasi tekanan ekologis di wilayah hulu DAS. Kerusakan tutupan hutan, lemahnya pengawasan alih fungsi lahan, dan minimnya kontrol negara menjadi rangkaian sebab yang saling terkait.

Fuadi mengungkapkan, berdasarkan keterangan Wali Nagari Salareh Aia, terdapat sejumlah titik hutan yang telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit. Ironisnya, status legalitas lahan-lahan tersebut hingga kini belum jelas.

“Kita butuh inventarisasi penggunaan lahan secara menyeluruh. Bahkan audit lingkungan di kawasan hulu yang menyumbang korban meninggal terbanyak,” tegasnya.

Palembayan tercatat sebagai wilayah dengan jumlah korban tewas dan hilang tertinggi dalam rangkaian bencana galodo yang melanda tiga provinsi di Sumatra.

Fakta ini, seharusnya menjadi dasar kuat bagi negara untuk hadir lebih tegas dalam melindungi kawasan hulu DAS yang begitu rentan terhadap alih fungsi atau perubahan tutupan hutan.

“Tragedi ini bukan hanya catatan bencana, tapi alarm ekologis. Ketika hulu rusak dan dibiarkan, hilir hanya tinggal menunggu waktu untuk hancur,” katanya.

Galodo Salareh Aia meninggalkan luka mendalam sekaligus pertanyaan besar, berapa banyak lagi nyawa yang harus hilang sebelum perlindungan lingkungan benar-benar ditegakkan?

Di tengah puing dan lumpur, bumi Palembayan  mengingatkan bahwa ketika alam kehilangan penjaganya, manusia berada di ambang kepunahan. (*).

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *