AGAM, HAISUMBAR — Jejak galodo yang meluluhlantakkan Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, bukan sekadar kisah bencana alam. Di balik batu raksasa, kayu gelondongan, dan lumpur yang menyapu permukiman, tersimpan pesan keras tentang betapa rapuhnya ekosistem hulu daerah aliran sungai (DAS) yang lama diabaikan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumatera Barat, Tasliatul Fuadi yang meninjau langsung lokasi terdampak, menyebut galodo Palembayan sebagai peringatan ekologis paling serius dalam ingatan masyarakat setempat. 

Bahkan, seorang tetua kampung berusia lebih dari 70 tahun mengaku belum pernah menyaksikan bencana sedahsyat ini sepanjang hidupnya.

“Beliau mengatakan, galodo kali ini adalah yang paling dahsyat yang pernah terjadi. Ini bukan cerita biasa. Satu anggota keluarganya hingga kini masih hilang,” kata Tasliatul Fuadi Minggu (21/12/2025).

Kesaksian itu menggambarkan betapa ekstremnya daya rusak galodo yang datang dari kawasan perbukitan. Sang tetua kini harus mengungsi ke rumah kerabatnya di Pasaman, meninggalkan kampung halaman yang porak-poranda oleh arus air bah.

Pantauan DLH Sumbar di lapangan memperlihatkan kehancuran yang mengguncang nalar. Batu-batu raksasa, sebagian berukuran hampir sebesar rumah dan truk bahkan terserak hingga ke area persawahan dan pemukiman di pinggir jalan. Material tersebut berasal dari hulu, terseret arus deras yang meluncur tanpa kendali.

“Alur sungainya cukup dalam. Ini menjelaskan bagaimana batu sebesar itu bisa berpindah jauh. Daya rusaknya luar biasa,” ujar Fuadi.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *