PADANG, haisumbar.com/ — Penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat memasuki fase krusial. Seiring bakal berakhirnya masa tanggap darurat, pemerintah daerah mulai bersiap melangkah ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Namun satu persoalan mendasar menjadi penentu keberhasilan pemulihan yaitu akurasi dan validasi data.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Sumbar, Ilham Wahab, mengungkapkan bahwa hingga tanggal 16 Desember 2025, jumlah warga terdampak bencana masih mencapai 11.228 orang.
Angka ini menunjukkan bahwa dampak bencana belum sepenuhnya tertangani, meski di sejumlah wilayah kondisi mulai berangsur pulih.
“Ini menjadi gambaran bahwa pekerjaan kita masih panjang. Karena itu, memasuki fase rehab–rekon, data harus benar-benar akurat,” ujar Ilham Wahab ditemui di Posko penanganan darurat Bencana Sumatra Barat (16/12/2025) lalu.
Ilham Wahab yang dipercaya sebagai juru bicara BPBD Sumbar ini menjelaskan, status tanggap darurat Provinsi Sumatera Barat saat ini masih berada pada tahap kedua dan berlaku hingga 22 Desember 2025.
Perpanjangan status tersebut dihitung sejak 9 Desember 2025, menyesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan penanganan lanjutan.”Status ini menjadi landasan hukum bagi kita untuk tetap bergerak cepat, terutama dalam penanganan darurat lanjutan sekaligus menyiapkan transisi menuju rehabilitasi dan rekonstruksi,” katanya.
Meski masih dalam fase tanggap darurat, BPBD Sumbar telah mulai menyiapkan langkah awal rehabilitasi dan rekonstruksi.
Menurut Ilham, pendataan kerusakan, kerugian, dampak sosial, hingga gangguan akses telah dilakukan sejak awal, sesuai dengan kewenangan masing-masing sektor.
Pendataan tersebut dibagi ke dalam lima sektor utama, yakni sektor permukiman, infrastruktur, sosial, ekonomi, serta lintas sektor. Untuk mempercepat dan menjaga kualitas data, BPBD Sumbar membentuk Tim Kajian Kebutuhan Pascabencana (Jitu Pasna) dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.
“Dalam tim ini, ada lima profesor yang ikut membantu kami, agar proses asesmen berjalan objektif dan berbasis keilmuan. Targetnya, data yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan,” ujar Ilham.