Rp2,6 T Dicabut Saat Sumbar Berduka, Gubernur Mahyeldi Surati Presiden Minta Pemotongan Anggaran Dibatalkan
AGAM, haisumbar.com/ –Belum genap sebulan Sumatera Barat diguncang bencana ekologis terbesar dalam satu dekade terakhir, Pemerintah Pusat justru berencana memangkas anggaran Transfer ke Daerah (TKD) Sumbar tahun 2026 sebesar Rp2,6 triliun.
Keputusan itu sontak memicu kekhawatiran daerah, terutama ketika proses pencarian korban, pemulihan infrastruktur, dan penanganan pengungsi masih berlangsung di banyak titik.
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah langsung mengambil langkah. Dari Silareh Aia, Palembayan, salah satu lokasi yang luluh lantak diterjang banjir bandang dan Longsor Mahyeldi mengumumkan bahwa ia telah mengirim surat resmi kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk meminta pembatalan pemotongan anggaran tersebut.
“Kita sudah menyurati Bapak Presiden Prabowo dan Menteri Keuangan. Efisiensi TKD ini perlu dikembalikan, karena kita sangat membutuhkan dukungan anggaran untuk penanganan bencana,” ujar Mahyeldi, Kamis (4/12).
Menurut Gubernur Mahyeldi, Sumbar kini sedang berada dalam situasi krisis ekologis dan kemanusiaan, sehingga setiap rupiah sangat diperlukan. Ia menyebut skala kerusakan yang tercatat sejauh ini “terlalu besar untuk ditanggung daerah sendiri”.
Data Pemprov Sumbar memperlihatkan hantaman bencana kali ini menyasar hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat. Tercatat 1.018 rumah rusak berat, 1.787 rumah rusak sedang, 317 rumah hilang total dan 94 jembatan jalur vital antarwilayah rusak.
Terjangan bencana juga mengakibatkan puluhan kilometer jalan kabupaten, provinsi, hingga nasional terputus. Fasilitas umum dan rumah masyarakat banyak yang rusak parah.
“Fokus kita saat ini adalah memastikan kebutuhan dasar terpenuhi sambil membuka akses ke daerah terdampak agar bantuan bisa sampai cepat,” tegasnya.
Menurut Mahyeldi, pemotongan TKD justru akan memperlambat pemulihan dan memperbesar risiko ketimpangan serta kerentanan sosial di daerah-daerah yang paling terpukul bencana.