75 Ribu Mengungsi, 61 Meninggal: Peta Bencana Sumbar Menghitam di 16 Kabupaten/Kota
Dalam upaya penanganan darurat, pemerintah provinsi bersama pemerintah pusat mulai memaksimalkan seluruh sumber daya yang tersedia.
“Sore tadi sebuah pesawat Hercules tiba membawa bantuan logistik berupa peralatan komunikasi, perahu, tenda, beras, dan makanan siap saji,” tambahnya.
Menurut Ilham, malam ini tim sudah menyiapkan rencana distribusi yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap daerah terdampak. Di Kantor Gubernur Sumbar, rapat lintas instansi masih berlangsung hingga malam, dipimpin langsung oleh Gubernur, Pangdam, Danrem, Kodam, dan Kapolda, untuk mempercepat langkah pembukaan akses terisolir dan evakuasi warga.
Ilham menyampaikan bahwa besok pemerintah akan menyalurkan bantuan melalui jalur udara, baik menggunakan armada Basarnas maupun BNPB. Distribusi jalur laut dan darat juga diupayakan maksimal sesuai kondisi medan yang memungkinkan. Pemerintah berharap pola distribusi multidimensi ini dapat menjangkau wilayah yang selama ini belum tersentuh bantuan.
Di tengah upaya tersebut, ancaman bencana susulan masih membayangi. BMKG memperingatkan bahwa potensi hujan dengan intensitas tinggi masih akan terjadi hingga 29 November 2025. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir susulan, longsor baru, serta banjir bandang di berbagai titik.
“Kita berharap intensitas bencana tidak bertambah lagi karena sudah terlalu banyak saudara kita yang hilang,” kata Ilham.
Catatan kritis bagi pemerintah dan otoritas penanganan bencana kembali mengemuka. Skala kerusakan dan jumlah korban menunjukkan bahwa mitigasi bencana di Sumbar masih memiliki banyak celah.
Putusnya jalur nasional, lambatnya pembukaan akses di Agam dan Pasaman Barat, serta banyaknya titik terisolasi memberikan gambaran bahwa respons cepat sering kali baru bergerak setelah situasi mencapai tingkat keparahan tertinggi.
Dengan curah hujan yang masih tinggi dan ribuan warga masih berada di titik pengungsian, 24 jam ke depan akan menjadi fase paling menentukan dalam keseluruhan operasi kemanusiaan ini. (*).