Skip to content
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Hai Sumbar

Suara Dari Ranah

Hai Sumbar

Suara Dari Ranah

  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Nasional
  • Metropolis
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Nasional
  • Metropolis
Close

Search

HukumNasional

Hutan Dibabat, Hukum Lemah, Bisnis Ilegal Marak, Pakar Lingkungan Ungkap Akar Bencana Ekologis Sumatra.

By
December 4, 2025 2 Min Read
0

PADANG, haisumbar.com/— Akademisi dan pakar lingkungan Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Edo Andrefson menegaskan bahwa rangkaian bencana hidrometeorologi yang menghantam tiga provinsi di Pulau Sumatratermasuk Sumatera Baratbukanlah peristiwa alam yang terjadi tiba-tiba. 

Menurutnya, apa yang terjadi saat ini adalah “bencana rakitan” hasil dari kerusakan ekologis yang dibiarkan menumpuk selama bertahun-tahun.

Edo menilai, curah hujan ekstrem yang memicu banjir bandang dan longsor hanyalah pemantik. Akar persoalannya jauh lebih dalam yaitu penggundulan hutan, pelanggaran tata ruang yang kronis, eksploitasi sumber daya alam yang tak terkendali, lemahnya budaya mitigasi, serta suburnya praktik bisnis ilegal di berbagai daerah.

“Bencana sebesar ini tidak mungkin terjadi tanpa proses panjang yang kita rakit bersama-sama. Ini bukan semata bencana alam, tapi bencana ekologis akibat keserakahan manusia,” ujar Edo di Padang, Rabu (3/12/2025).

Ia mengungkapkan bahwa banyak kawasan lindung, resapan air, hingga sempadan sungai berubah fungsi menjadi kebun, permukiman, dan area ekonomi yang tidak sesuai rencana tata ruang. Penegakan hukum terhadap pembalakan liar, galian C ilegal, dan alih fungsi lahan berjalan setengah hati.

“Kita membiarkan ruang hidup rusak. Dan hari ini ruang itu menagih konsekuensinya,” tegasnya.

Edo juga menyoroti lambannya pemerintah pusat menetapkan status Bencana Nasional, padahal indikator kerusakan dan korban sudah melewati batas kemampuan daerah. Menurutnya, kegamangan ini membuat mobilisasi sumber daya skala besar tersendat.

“Dengan korban jiwa ratusan, ribuan hektare kerusakan, dan infrastruktur runtuh di tiga provinsi, seharusnya pemerintah pusat tidak lagi ragu. Ini sangat jelas memenuhi indikator Bencana Nasional,” ucapnya.

Ia menilai, ketidaktegasan kebijakan dan lambatnya respons membuat penderitaan masyarakat di lapangan semakin dalam.

Edo menegaskan bahwa bencana kali ini harus menjadi momentum perubahan besar-besaran dalam cara daerah mengelola alam. Ia menyerukan perlunya “pertobatan ekologis massal”, transformasi menyeluruh dalam pola pembangunan, penataan ruang, penegakan hukum, dan perilaku sosial.

“Pertobatan ekologis bukan jargon. Ini ajakan untuk merombak cara kita membangun, memproduksi, menegakkan hukum, mengelola ruang, dan memulihkan lingkungan. Jika tidak, Sumatra akan terus menjadi panggung bencana demi bencana,” ungkapnya.

Pages: 1 2

Tags:

BencanaBencana EkologisBNPB RIDeforestasiMahyeldi AnsharullahPolda SumbarSumatraSumatra BaratSumbar
Author

Follow Me
Other Articles
Previous

Mabes Polri Bentuk Timsus Usut Indikasi Ilegal Logging di Sumbar

Next

1.161 Ton Sampah Masuk dalam Tiga Hari, TPA Regional Payakumbuh Jadi Benteng Darurat Sampah Sumbar Pasca Bencana.

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

haisumbar.id

Copyright 2026 — Hai Sumbar. All rights reserved.