Lebih jauh, Pandu menilai kekuatan Sumatera Barat dalam menghadapi bencana tidak hanya terletak pada struktur dan sistem, tetapi juga pada mentalitas kolektif yang terbangun antara pemerintah dan masyarakat.
“Di Sumbar, hubungan antarlevel pemerintahan terasa lebih dekat. Tidak ada budaya saling menunggu. Yang muncul justru semangat saling menguatkan,” katanya.
Ia menutup dengan refleksi bahwa di tengah bencana, kepemimpinan diuji bukan oleh jabatan, tetapi oleh kemampuan merawat kebersamaan**.
“Yang paling membedakan Sumatera Barat dari daerah lain adalah mentalitasnya. Tidak ada waktu untuk saling menyalahkan. Yang ada hanya semangat saling membantu. Karena di saat bencana, kekuatan terbesar bukanlah posisi, melainkan kebersamaan,” pungkas Pandu. (*).