Dalam pernyataan bernada kritis, Erman juga mengungkapkan kegelisahan masyarakat adat untuk bersuara lebih keras jika ternyata ada “orang besar” di balik aktivitas tersebut. Namun demikian, ia menegaskan LKAAM memilih bersikap terbuka demi keselamatan masyarakat dan kelestarian alam.
Ia pun mengajak Bupati Pesisir Selatan Wali Kota Padang, serta seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama turun tangan dan menjaga kawasan hulu dari kerusakan lebih lanjut.
“Jangan sampai nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau galodo datang, siapa yang akan bertanggung jawab?” ujarnya.
Seruan LKAAM Bungus ini menambah daftar panjang peringatan masyarakat adat terkait masifnya alih fungsi lahan di Sumatra Barat.
Di tengah duka akibat bencana ekologis yang berulang, suara dari akar rumput kembali mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan di hulu selalu berujung petaka di hilir. (*).