“Lauik Indak Manyimpan Rahasio” Ketika Gelondongan Kayu Mengubur Harapan Nelayan Muaro Gantiang
Narasi “anomali cuaca” atau “siklon Senyar” mendadak terasa kerdil di hadapan bukti-bukti yang terhampar jelas di bibir pantai, deforestasi, alih fungsi lahan, ilegal logging, dan tata ruang tanpa visi mitigasi.
Laut tidak pernah berbohong. Ia hanya mengembalikan apa yang dirusak manusia.
Lebih Dari Dua Minggu Tanpa Penghasilan, Nelayan Tersisih di Tengah Bencana
Pantauan haisumbar.com/ di lokasi pada Selasa (9/12/2025) memperlihatkan betapa parah dampaknya. Ratusan kepala keluarga nelayan di Muaro Gantiang dan sekitarnya sudah lebih dari dua minggu tidak bisa melaut.
Bahkan ketika cuaca membaik pun, perahu-perahu mereka tetap tak bisa diturunkan karena bibir pantai masih penuh tumpukan kayu.

Di beberapa titik, gelondongan besar bahkan menghantam perahu yang ditambatkan, meninggalkan tubuh kapal yang patah atau retak. Namun kerusakan itu belum mendapat perhatian pemerintah.
“Hidup kami kini batambah Payah. Anak sekolah, makan, beras, listrik, dari mano dibayia kalau indak ka lauik?” keluh Bujang (65) nelayan tua di kampung itu yang kini lebih sering terduduk di bawah sampan tuanya, memperbaiki jala tanpa tahu kapan akan dipakai lagi.
Satu-satunya “bantuan” yang datang hanyalah dua unit ekskavator yang dikerahkan untuk menyingkirkan gelondongan besar. Namun prosesnya lambat. Dan setiap kali gelombang tinggi datang, kayu-kayu itu kembali terseret ke pinggir pantai.
Sementara itu, bantuan sembako dan dana darurat dari pemerintah tak kunjung mengalir. Skema bantuan berbasis tempat tinggal membuat nelayan yang berdomisili di luar radius bencana formal dianggap “tidak terdampak”meski mata pencaharian mereka lumpuh total.
“Payah kami mengecek soal bantuan ko. Pakai kartu keluarga kini, yang dapek kadang indak nelayan do. Urang batukang dapek juo. Samantaro kami nan ndak bisa ka Lauik ko baa?,” tanya Bujang pelan.
Karena dapur harus tetap mengepul, beberapa nelayan terpaksa menjual gelondongan kayu yang bisa mereka kumpulkan. Harganya murah, Rp250 ribu per satu mobil pick-up, jauh dari cukup untuk mengganti hilangnya penghasilan harian melaut.
“Kadang lucu rasanya. Kayu-kayu yang bikin kami susah, kini malah jadi tempat kami mancari pitih untuak makan. Tapi itu pun tak seberapa,” ucap Beni sambil menggeleng pelan.
Para nelayan pemberani di Pantai Padang, kini tidak hanya terdampak gelombang, tetapi juga terdampak kebijakan yang gagal melihat nelayan sebagai kelompok rentan krisis iklim.
Padahal sektor kelautan-lah yang pertama terkena imbas badai, sedimentasi, sampah, dan kini kayu gelondongan saksi pembalakan liar dari hulu.
Negara Datang Terlambat, Nelayan Selalu yang Paling Akhir Diingat
Di sepanjang tepian pantai, Haluan menyaksikan perahu-perahu kecil kandas di pasir, beberapa dengan lambung pecah, sebagian nyaris terkubur oleh gelondongan.
“Kalau sawah rusak, petaninya dibantu. Kalau jalan rusak, cepat diperbaiki. Tapi kalau laut kami rusak, siapo yang datang?” kata Andi, suaranya berat.
Ini bukan keluhan kosong. Melainkan sebuah jeritan dari kelompok yang paling dekat dengan perubahan iklim, namun paling jauh dari perhatian negara.
Pada setiap bencana ekologis, nelayan seolah hanya muncul sebagai catatan kaki, padahal mereka berdiri di garis depan dampak.
Hari itu ombak Pantai Padang memang sedang rendah. Tapi ketakutan tetap tinggal.
“Kalau gelombang pasang datang, kayu-kayu ini bisa hancurkan perahu kami lagi. Rumah di pinggir pantai pun bisa hanyut,” ujar Bujang sembari menatap ke arah laut, seakan mencari jawaban pada garis horison.
Muaro Gantiang hari ini bukan sekadar lokasi terdampak. Ia adalah saksi bisu dari kejahatan lingkungan yang sudah terlalu lama dibiarkan.
“Indak ado badai nan datang tanpa sebab. Kalau hutan rusak, lauik ka marah. Dan kini kami yang mananggungnya,” tutup Andi.
Siapa yang menandai kayu-kayu itu dengan pilox? Siapa yang memotongnya dengan chainsaw? Siapa yang mengangkutnya selama ini?
Dan siapa yang membiarkan?
Sementara pertanyaan-pertanyaan itu menggantung, nelayan di Muaro Gantiang terus menunggu. Menunggu laut kembali tenang.
Menunggu gelondongan kayu tersingkir.
Menunggu bantuan yang tak kunjung datang dan tentu saja, menunggu negara mengingat bahwa mereka ada.
Karena sebagaimana kata orang di kampung itu, “Lauik indak manyimpan rahasio.” Dan hari ini, laut Pantai Muaro Gantiang menyibak semuanya. (*).