Menyilau Hasil Panen Padi Sawah Pokok Murah, Produktivitas Naik, Hama Wereng KO
Salah Prosedur, Tidak Semua Lokasi Berhasil
Meski mayoritas lokasi menunjukkan lonjakan hasil panen, Distanhortbun Sumbar mencatat adanya beberapa kasus kegagalan. Setelah ditelusuri, masalah terjadi akibat kesalahan prosedur teknis, terutama tidak dilakukan penggenangan awal sebelum penghamparan jerami.
“Tanah harus digenangi minimal dua hari agar lunak dan menyerap air. Jika tahap ini terlewat, tanaman jelas akan kekurangan cadangan air sehingga hasil tidak maksimal,” jelas Afniwarman.
Menurutnya,beberapa kelompok tani yang mengikuti tahapan sesuai anjuran terbukti berhasil, sementara yang melewatkan prosedur kunci ini justru mengalami hasil buruk.
Distanhortbun Sumbar pun kini sedang melakukan pendataan lengkap terkait produksi dan luasan sawah yang menerapkan metode SPM di seluruh Sumbar.
Meski sempat menimbulkan perdebatan terkait dukungan pendanaan nagari di beberapa daerah, terutama terkait penggunaan dana desa, namun antusiasme petani justru meningkat setelah melihat hasil panen perdana.
“Begitu mereka lihat tanah mulai pulih dan hasil panen naik, mereka ingin lanjut. Ini masuk akal secara ekonomi,” kata Afniwarman.
SPM, konsep pertanian modern ramah lingkungan yang digagas Ir Djoni,awalnya dianggap hanya konsep alternatif. Namun kini mulai menunjukkan bahwa ia berpotensi menjadi fondasi baru ketahanan pangan Sumbar ditengah berbagai tantangan yang mendera petani Ranah Minang hari ini. (*).