Proyek modern Kelok 9 menempatkan kombinasi jalan penghubung dan sejumlah jembatan. Total panjang jalan dan jembatan yang dibangun sekitar 2.537 meter, yang terdiri dari enam unit jembatan dengan panjang total jembatan sekitar 959 meter dan jalan penghubung sekitar 1.537 meter.
Salah satu bentang (span) terpanjang mencapai ratusan meter dan ada bagian berupa jembatan lengkung beton bertulang dengan pondasi bore pile sedalam sampai sekitar 20 meter — dirancang pula untuk menahan gaya gempa. Jalan baru memiliki lebar sekitar 12,5 meter (dua lajur).
Angka biaya proyek sedikit berbeda dalam berbagai rilis resmi dan liputan media karena penganggaran bertahap dan ada beberapa tahapan pekerjaanm Namun sampai laporan Agustus 2009, pencatatan pengeluaran untuk pembangunan tahap I tercatat sekitar Rp252,99 miliar, dan bila ditambahkan kontrak tambahan kebutuhan untuk penyelesaian tahap I mencapai Rp297,99 miliar dana pusat yang mengucur bertahap sejak 2003.
Namun jika melihat pemberitaan saat proyek tuntas pada 2013, sejumlah media merujuk angka total pembangunan sekitar Rp580 miliar untuk keseluruhan proyek sampai selesai dan dibuka untuk lalu lintas mudik Lebaran 2013.
Perbedaan angka ini wajar mengingat keberadaan beberapa tahap penganggaran, penambahan pekerjaan, dan konversi mata uang pada sumber internasional
Singkatnya: dana datang bertahap sejak 2003, laporan menempatkan belanja antara ratusan miliar (Rp250–Rp580 miliar) tergantung apakah merujuk pada tahap I saja atau total biaya akhir.
Setelah pekerjaan diselesaikan secara bertahap, jalan layang Kelok 9 resmi difungsikan dan sempat ditinjau oleh pejabat pusat pada 2013.
Pembukaan overpass ini memangkas titik kemacetan, memperlancar arus kendaraan besar, dan sekaligus menjadikan Kelok 9 sebagai salah satu tujuan singgah pemudik dan wisatawan yang ingin berhenti untuk foto pemandangan tebing, lembah, dan sungai di bawahnya.
Kelok 9 sekarang kini berperan ganda, infrastruktur vital untuk kelancaran logistik Trans-Sumatra sekaligus magnet wisata (rest area dadakan untuk menikmati panorama Harau dan cagar alam di sekitarnya).
Namun pemerintah dan masyarakat lokal juga terus menghadapi tantangan klasik khas Warga Panggaleh, yaitu mengatur pedagang pinggir jalan, menjaga kebersihan, dan menyeimbangkan kunjungan wisata dengan konservasi wilayah cagar alam yang mengapit kelokan. (*)