PERDAGANGAN: KONTRIBUSI KUAT, TREN POSITIF
Sektor perdagangan berkontribusi 17,10% terhadap PDRB dan tercatat punya laju pertumbuhan (y-on-y) sebesar +4,81%.
Sektor perdagangan adalah satu dari sedikit sektor besar yang menahan laju perlambatan ekonomi. Aktivitas perdagangan daring dan naiknya pasokan barang domestik impor menjadi motor utama.
Data ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat masih terjaga—namun sedikit rentan fluktuasi inflasi dan daya beli.
Rilis TW III BPS juga mengungkapkan bahwa sektor perdagangan tampil sebagai satu-satunya sektor besar yang tumbuh di atas rata-rata PDRB.
TRANSPORTASI: PENGHAMBAT TERBESAR PERTUMBUHAN
Hingga triwulan ketiga tahun 2025, sektor transportasi tercatat berkontribusi sebesar 10,62% bagi PDRB. Sektor ini tercatat tumbuh (y-on-y)–0,95% dan Pertumbuhan (q-to-q)–5,64%.
Transportasi menjadi sektor yang paling menekan pertumbuhan Sumbar pada triwulan ini. Data pergerakan penumpang dan barang pun cukup mencolok. Penumpang udara turun 7,06%. Barang angkutan udara turun 0,94%. Begitupun dengan angkutan darat yang juga ikut menurun
Dengan kontribusi di atas 10 persen, kontraksi di sektor ini otomatis memberi dampak negatif signifikan pada ekonomi Sumbar.
INDUSTRI PENGOLAHAN: LAJU TERTINGGI, BASIS MASIH TERLALU KECIL
Sektor industri pengolahan, tercatat berkontribusi 9,04% terhadap PDRB dengan laju pertumbuhan (y-on-y): +9,06% serta pertumbuhan (q-to-q): +8,81%.
Data BPS menunjukkan sektor industri sebenarnya sedang “ngebut”, mencatat pertumbuhan tertinggi antarsektor. Namun karena kontribusinya baru 9 persen, dampaknya belum terasa sebagai motor utama ekonomi.
Dalam skala agregat, industri belum bisa menjadi game changer bagi struktur ekonomi Sumbar.
Gubernur Mahyeldi mengakui bahwa struktur saat ini kurang sehat. “Industri harus diarahkan ke daerah dekat bahan baku. Kalau semua di Padang, rantai pasok panjang dan nilai tambah hilang.”
Sugeng mengingatkan, pengalaman pabrik karet yang tutup karena logistik mahal perlu jadi pelajaran.
KONSTRUKSI: SEKTOR BESAR YANG SEDANG MEROSOT
Ditengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah dan pemangkasan TKD, sektor bisnis konstruksi tercatat memberikan kontribusi 9,65% bagi PDRB. Sektor ini tercatat memiliki laju pertumbuhan (y-on-y) sebesar–1,02%.
Konstruksi adalah sektor yang punya efek domino ke banyak subsektor. Namun sejak awal tahun, kinerjanya masih merah.
Turunnya pengerjaan proyek pemerintah dan swasta menjadi faktor penekan. Kontraksi ini memperlambat efek pengganda ke industri pendukung seperti semen, pasir, logistik, dan perangkat teknik.
SEKTOR JASA: PEMACU BARU DALAM STRUKTUR EKONOMI.
Rilis BPS juga mengungkapkan hal menarik lainnya, beberapa sektor jasa justru tumbuh luar biasa. Seperti
Jasa lainnya sebesar+10,10% jasa pendidikan +7,69%, Jasa kesehatan & sosial: +6,93% dan Informasi dan komunikasi: +6,56% (c-to-c).
Meski kontribusinya belum menyaingi sektor besar, laju pertumbuhan tinggi ini memberi sinyal awal pergeseran struktur ekonomi Sumbar menuju sektor tersier. (*)