JAKARTA,haisumbar.com/— Politisi muda Partai NasDem, Willy Aditya, kembali menggugah perhatian publik dengan desakan kerasnya agar Undang-Undang Sistem Perbukuan Nasional segera direvisi. 

Menurutnya, ekosistem perbukuan Indonesia saat ini berada di titik nadir. Usaha penerbitan meredup, toko buku tumbang satu per satu, dan generasi muda tidak lagi bermimpi menjadi penulis.

“Penerbit mati, toko buku mati. Tidak ada anak-anak kita bercita-cita jadi penulis,” tegas Willy dalam sebuah forum diskusi terkait masa depan literasi Indonesia.yang diunggah di akun Instagram resminya Minggu (16/11/2025).

Ketua Komisi XIII DPR-RI itu menyoroti betapa timpangnya penghargaan terhadap profesi penulis di Tanah Air. Ia mencontohkan betapa luar biasanya kekayaan yang diraih penulis seperti J.K. Rowling, namun realitas di Indonesia sungguh berbeda jauh.

“Siapa penulis yang dapat royalti tertinggi di Indonesia? Pramoedya Ananta Toer. Itu pun hanya 15 persen,” ungkapnya.

Menurut Willy, jika negara tidak turun tangan memperbaiki sistem perbukuan, Indonesia akan mengalami generasi tanpa penulis, tanpa penerbit yang sehat, dan tanpa toko buku yang bertahan.

Karena itu, revisi UU Sistem Perbukuan Nasional mendesak dilakukan untuk menghadirkan skema baru yang lebih adil dan berkelanjutan bagi penulis, penerbit, distributor, hingga toko buku.

“Saya minta itu direvisi karena apa? Satu, penulis harus hidup. Toko buku harus hidup. Penerbit harus hidup,” katanya.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *