Kota Padang Belum Tangguh Bencana: PSB UNAND Peringatkan Minimnya Latihan, Infrastruktur Lemah, dan Koordinasi Amburadul
Masalah lain adalah koordinasi antara kelompok siaga bencana, RT/RW, kelurahan, hingga BPBD.Menurut Abdul Hakam, wilayah seperti Belimbing/Kuranji dan Sungai Sapih memiliki tingkat koordinasi bencana yang masih rendah.
Namun ada beberapa kelurahan yang menunjukkan praktik baik, seperti Limau Manis, Lolong Belanti, dan Kantos BWSS V Khatib Sulaiman yang mulai membangun jaringan koordinasi lebih baik.
Sementara itu, sosiolog bencana PSB Unand, Drs. Rinaldi Ekaputra, M.Si, menyebut rendahnya literasi kebencanaan sebagai sumber masalah utama.
“Kurangnya edukasi mitigasi, lemahnya komunikasi risiko, dan rendahnya kesadaran warga menjadi penyebab utama Padang belum tangguh bencana,” jelasnya.
Rinaldi menegaskan bahwa Pemko Padang harus meninjau ulang program edukasi kebencanaan yang selama ini tidak berjalan efektif. Ia menyoroti perlunya beberapa peningkatan.
Yaitu kualitas sosialisasi kebencanaan,perawatan shelter dan infrastruktur evakuasi, alat komunikasi darurat, serta latihan rutin yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Rinaldi kembali mengingatkan bahwa gempa besar tidak bisa diprediksi. Satu-satunya benteng keselamatan adalah kesiapan warga.
“Saat gempa terjadi, warga hanya punya waktu beberapa menit sebelum tsunami tiba. Tanpa latihan dan koordinasi rutin, potensi korban akan sangat besar,” ujarnya.
Simulasi tsunami yang telah dilakukan pada 5 November mendatang menjadi barometer kesiapan riil masyarakat. Namun PSB menegaskan, simulasi bukan sekadar seremonial tahunan.
Padang membutuhkan latihan berkala, penyempurnaan rute evakuasi, serta penguatan komunikasi risiko hingga tingkat dasawisma.
Tanpa itu semua, Kota Padang tetap berada dalam status rentan, belum tangguh bencana, dan rawan kehilangan banyak nyawa ketika Megathrust Mentawai bergerak jadi bencana. (*).