Kota Padang Belum Tangguh Bencana: PSB UNAND Peringatkan Minimnya Latihan, Infrastruktur Lemah, dan Koordinasi Amburadul
PADANG,haisumbar.com/- Usai pelaksanaan Simulasi Gempa dan Tsunami pada 5 November 2025, Pusat Studi Bencana (PSB) Universitas Andalas (Unand) memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Padang. Namun di sisi lain, lembaga akademik tersebut justru mengeluarkan peringatan keras bagi kota ini, Kota Padang dinyatakan belum tangguh bencana.
Kajian terbaru PSB Unand menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan, kesiapsiagaan, hingga kemampuan teknis warga dalam menghadapi situasi darurat masih memprihatinkan. Minimnya latihan dan lemahnya koordinasi antar pemangku kepentingan memperlihatkan bahwa risiko bencana di Padang masih jauh dari kata terkendali.
Prof. Dr. Ir. Abdul Hakam, MT, PhD, Pengurus PSB Unand Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, menegaskan bahwa intensitas latihan di Padang berada pada titik yang sangat rendah.
“Rendahnya intensitas latihan menyebabkan masyarakat kurang siap secara praktis ketika situasi darurat benar-benar terjadi,”tegasnya, Senin (4/11/2025).
Dari 104 kelurahan di Kota Padang, hampir seluruhnya masuk kategori rendah dalam indeks mitigasi bencana. Daerah seperti Sungai Sapih, Jati, Sawahan, Anak Air, Belimbing, Ulu Gadut, hingga Lubuk Begalung masih memiliki tingkat kesiapsiagaan masyarakat yang minim.
Lebih memprihatinkan, kajian PSB juga menyebutkan bahwa banyak kelurahan tidak memiliki sarana penyelamatan yang layak. Shelter terbatas, jalur evakuasi belum jelas, dan peralatan darurat minim.
Kelurahan seperti Sungai Sapih, Sawahan, Belimbing, serta Limau Manis disebut berada dalam kondisi terbatas dari sisi fasilitas fisik. Hanya beberapa wilayah seperti Kantos BWSS V Khatib Sulaiman/Ulak Karang Selatan dan Lolong Belanti yang masuk kategori sedang* dalam hal kesiapan infrastruktur.
“Keterbatasan ini sangat berpengaruh pada peluang selamat ketika tsunami benar-benar terjadi,”ujar Abdul Hakam.
Padahal, Kota Padang berada di garis depan ancaman Megathrust Mentawai—salah satu sumber gempa paling mematikan di dunia. Namun fakta lapangan menunjukkan sebagian besar warga belum memahami karakter ancaman tersebut.
PSB mencatat warga di Sungai Sapih, Jati, Sawahan, dan Belimbing bahkan belum mengerti langkah penyelamatan dasar seperti evakuasi spontan saat guncangan besar terjadi.