PADANG, haisumbar.com/ —Di tengah gemuruh air bah dan derak kayu gelondongan yang dibawa arus dari hulu, jeritan seorang perempuan mengguncang lini masa pasca terjangan bencana Galodo yang melanda Sumatra Barat.

“Ama, suami, anak ndak tau dima lai… awak di ateh batang seri ko, tolong !,” 

Suara itu milik Dini Viona warga Perumahan Abi Koto Panjang, Lubuk Minturun, Kota Padang. Ia merekam kepanikan di atas sebatang pohon seri, satu-satunya tempat berpijak ketika banjir bandang melumat rumah dan seluruh kehidupannya pada Rabu, 26 November 2025.

Air bah yang datang tak sampai sepuluh menit itu bukan hanya menghanyutkan harta benda. Ia merenggut orang-orang yang Dini cintai: ibunya, suaminya, serta putri kecilnya.

Namun kisah pilu itu tentu saja bukan semata akibat “musibah alam”. Investigasi lapangan haisumbar.com/ menunjukkan fakta yang jauh lebih getir dan menyakitkan.

Lubuk Minturun sudah lama ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana  dengan struktur tanah labil, alur sungai kecil yang menyempit secara sistematis, dan penggundulan hulu DAS yang semakin masif.

Tetapi peringatan itu, seperti banyak peringatan lain di Sumatera Barat, pada akhirnya memang tak pernah benar-benar didengar pemangku kepentingan pemegang kuasa.

Ketika Deras Air Bah Mencabut Nyawa

Banjir bandang yang berasal dari luapan Sungai Lubuk Minturun dan Bendungan Koto Panjang menghancurkan puluhan rumah di Perumahan Abi. Ratusan rumah lain rusak berat oleh terjangan lumpur, batang kayu, hingga bongkahan material dari hulu.

Dalam kekacauan itu, Dini berjuang menyelamatkan ibunya, Yerna Wilis (77). Namun genggaman itu terlepas ketika pusaran air memisahkan mereka.

Suaminya, Mulyadi (41), sempat mengangkat Dini ke atas pohon seri, sebelum ia dan putri mereka, Naura Nadhifa (12), ikut terseret arus.

Di atas pohon itu, Dini panik, gemetar, dan putus asa merasa hidupnya akan berakhir, kali itu juga.

Setelah air mulai surut, ia turun, menyusuri lumpur setinggi dada.

Ia menemukan suami dan putrinya masih hidup, basah kuyup dan berlumur lumpur.

Namun harapan itu tak menyeluruh. Pencarian di RSUD Sungai Sapiah dan RS Bhayangkara Padang mengakhiri pencarian penuh harapnya. sang ibunda tercinta , akhirnya ditemukan tak bernyawa.

Pages: 1 2 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *