PADANG,haisumbar.com/–Tren perlambatan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang telah berlangsung selama hampir satu dekade memantik kekhawatiran para ekonom. Salah satu yang paling vokal menyampaikan pandangan kritis adalah Ekonom Senior Sumbar Prof Syafruddin Karimi.
Menurut guru besar Ekonomi UNAND ini, tren pertumbuhan rendah yang berulang merupakan sinyal bahwa pola kerja pemerintah daerah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan struktural.
“Kita tidak bisa lagi memakai kacamata lama. Jika tidak ada perubahan cara pandang, Sumbar akan makin jauh tertinggal,” ujarnya Minggu (16/11/2025).
Ekonom senior Sumatra Barat ini menilai, persoalan paling mendasar terletak pada rendahnya efisiensi investasi. Ia menekankan bahwa Sumbar harus berani melakukan lompatan dengan menurunkan ICOR dan meningkatkan rasio pembentukan modal.
Pemerintah daerah, katanya, perlu mendorong investasi yang cepat menghasilkan output dan menetapkan target pertumbuhan PMTB yang progresif hingga 2029.
Tanpa keberanian melakukan terobosan seperti pemangkasan proses perizinan ekspansi menjadi hanya 14 hari dan memusatkan dukungan pada industri pengolahan pangan halal, logistik dingin, serta pariwisata berbasis event yang menetes langsung ke UMKM, pertumbuhan ekonomi akan tetap berada pada jalur yang landai.