Secara hidrologis, kata Prof Isril Berd, hulu Batang Kuranji berada di perbukitan Sungai Lareh–Air Dingin, sebagian bersinggungan dengan kawasan hutan lindung.
Kawasan itu, rawan erosi, tebing terjal dengan batuan lapuk. Saat ini, sebagian sudah berubah menjadi kebun campuran, ladang, dan akses jalan baru.
Kondisi ini membuat air hujan langsung mengalir ke sungai (runoff tinggi), bukan meresap ke tanah memicu “flash rise” seperti yang terjadi hari ini.
Hal serupa terjadi di Lubuak Minturun yang terhubung dengan perbukitan sisi timur Bandara dan daerah resapan yang terus menyusut akibat ekspansi pemukiman.
Penelusuran haisumbar.com/ yang diperkuat dengan catatan 20 tahun terakhir, kawasan Batang Kuranji/Lubuk Minturun tercatat telah mengalami beberapa kejadian besar.
Dimulai pada tahun 2007 ketika Banjir bandang Kuranji menghantam wilayah Andalas–Belimbing. Lalu 2012–2013 – Beberapa kejadian banjir bandang kecil akibat hujan intensitas tinggi.
Sementara pada 2023, tercatat terjadi Galodo besar di seberang Gunung Sarik akibat kombinasi hujan dan longsoran hulu. Kemudian pada tahun 2024–2025 ini, ktensitas kejadian meningkat, sebagian besar dipicu hilangnya vegetasi hulu dan pembukaan lahan.
Pola historis ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut bukan hanya rentan, tetapi sudah berada pada fase “fragile watershed atau DAS rapuh yang bisa kolaps kapan saja.
Lonjakan debit hari ini harus menjadi alarm besar bagi pemangku kebijakan. Fenomena air hitam yang naik dalam waktu singkat tidak akan terjadi jika hulu masih stabil secara ekologis.
“Jika kerusakan hulu tidak dihentikan, Kota Padang akan terus hidup dalam ancaman galodo setiap kali hujan lebat turun. Ini bukan persoalan teknis; ini persoalan politik tata ruang dan penegakan hukum,” tegas Prof. Isril Berd. (*)