Tommy menyebutkan adanya pola jaringan jalan logging yang membuka akses ke tempat-tempat yang seharusnya dijaga paling ketat.

“Ini bukan bencana alam murni. Ini kejahatan ekologis yang terjadi karena pembiaran,” tegasnya.

Pada citra Maxar terbaru tanggal 27 Juli 2025, WALHI kembali menemukan aktivitas pembalakan yang masih berlangsung. Tampak titik-titik penebangan aktif, tumpukan batang kayu yang siap diangkut, serta kerusakan hutan yang semakin melebar.

“Jika pemerintah masih mengatakan kayu-kayu itu hanya ‘kayu tumbang alami’, maka itu penghinaan terhadap akal sehat publik. Fakta visual dari satelit independen beresolusi tinggi menunjukkan hal sebaliknya,” kritik Tommy.

Ia menegaskan bahwa galodo berulang di Sumbar bukan sekadar akibat hujan ekstrem, melainkan konsekuensi dari keputusan politik yang keliru, lemahnya penegakan hukum kehutanan, dan pembiaran bertahun-tahun.

“Ini bukan musibah biasa. Ini buah pahit dari negara yang membiarkan kawasan konservasi digerogoti, hutan digunduli, dan hulu DAS dirusak tanpa kendali. Bencana ini lahir dari kelalaian pemerintah,” tutupnya.(*).

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *