PADANG, haisumbar.com/ –Cuaca ekstrem yang memicu serangkaian bencana hidrometeorologis di Sumatra Barat mulai memberi dampak berlapis pada aktivitas masyarakat. Tidak hanya akses transportasi yang terganggu, kini distribusi dan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite juga ikut terpukul.
Pantauan Haisumbar pada Kamis (27/11 2025), dua SPBU di sepanjang jalur utama Padang–Bukittinggi tidak dapat menjual Pertalite karena gangguan jaringan yang menghubungkan transaksi MyPertamina.
Kedua titik itu berada di SPBU 14.255.5103 Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, serta satu SPBU lainnya di kawasan yang sama.
“Pertalite tidak bisa dijual bang, tidak ada jaringan. Saat ini hanya bisa Pertamax,” ujar seorang operator SPBU Batang Anai saat ditemui Haluan.
Gangguan jaringan itu membuat sistem transaksi berbasis QR Code MyPertamina, yang menjadi syarat pembelian Pertalite, tidak dapat diakses. Alhasil, konsumen yang membutuhkan BBM bersubsidi terpaksa gigit jari.
Kondisi ini memicu kekecewaan para sopir angkutan yang sejak pagi mengantre untuk mengisi bahan bakar. Mereka mengeluhkan harus membeli Pertamax dengan harga lebih mahal, sementara beban biaya operasional semakin meningkat akibat cuaca buruk yang juga memperpanjang waktu tempuh perjalanan.
“Sekali jalan biaya sudah tinggi karena cuaca jelek, kini ditambah Pertalite tak bisa dibeli. Kami terpaksa isi Pertamax. Berat, bang,” ujar Afif (28), sopir truk rute Padang–Bukittinggi.
Sopir lainnya menegaskan bahwa gangguan ini membuat ongkos logistik melonjak, sementara permintaan angkut barang tengah turun akibat sejumlah jalur distribusi terganggu banjir dan tanah longsor.