Proyek Geothermal Hitay Kembali Masuk Setelah 5 Tahun Vakum, Warga Talang Curiga Ada Agenda Tersembunyi
Protes mulai intens sejak pertengahan–akhir 2017 dan kemudian sempat memanas hingga memicu terjadinya bentrokan fisik saat perusahaan yang dikawal aparat mencoba masuk lokasi survei/eksplorasi pada bulan November 2017.
Sempat terjadi bentrokan yang menimbulkan luka-luka dan berujung penangkapan pada awal 2018. Salah satu warga yang ditangkap saat itu bernama Dayu Dasril yang kemudian menjalani proses praperadilan pada Februari–Maret 2018.
Sedihnya, permohonan praperadilan itu pun akhirnya dinyatakan ditolak sehingga membangkitkan kecurigaan upaya kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan dan ruang hidup.
Penolakan ini Murni Suara Kami
Warga Batu Bajanjang juga membantah keras isu beredar yang menyatakan mereka termakan provokasi media, LSM dan NGO untuk menolak kehadiran Mega investasi Geothermal di wilayah tersebut.
Mereka menolak dianggap sebagai objek yang pasif. Alasannya, perwakilan warga Batu Bajanjang telah berkunjung langsung ke tiga lokasi geothermal sekaligus . Yakninya Geothermal Muara Labuh, Mataloko, dan Sorik Marapi. Hasilnya tidak menggembirakan.
“Warga di sana tidak lebih sejahtera dari kami. Ada lahan rusak, ada gas bocor, ada konflik. Itu yang kami lihat.” ucap Liwat
Petani Salingka Gunung Talang khawatir rusaknya sumber air, menurunnya kesuburan tanah, dan potensi pencemaran udara di kawasan pertanian padat seperti Gunung Talang.
“Kami hidup tenang dari bertani. Tidak ada alasan mengorbankan ruang hidup untuk proyek seperti ini. Jika pemerintah dan perusahaan terus memaksa, maka dipastikan ada agenda tersembunyi,” tuturnya. (*).